09
Sep
09

Filosofi Pendidikan Dinilai Rancu

SEMARANG – Pengakuan terhadap karya budaya bangsa serta berbagai kasus pelecehan oleh Malaysia menunjukkan kewibawaan Indonesia menurun.

Pudarnya marwah bangsa ini merupakan efek kumulatif dari kemerosotan mutu bangsa yang berkorelasi dengan sistem pendidikan.

Ketua Umum PGRI Dr Sulistiyo MPd menilai pendidikan yang diterapkan belum memiliki kejelasan filosofi yang mampu menerangkan tujuan pendidikan.

UUD 1945, UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan UU tentang Guru dan Dosen diharapkan bisa menjadi panduan bagi segenap aktivitas pendidikan. Namun objektivikasinya dalam ranah operasional senantiasa samar.

”Paradigma pendidikan kabur dan sama sekali tak menunjukkan korelasi yang jelas antara praktik pendidikan dan upaya melindungi segenap bangsa. Tujuan akhir operasi pendidikan makin tidak jelas ketika ranah kebudayaan dipisahkan dari sistem pendidikan nasional,” kata dia, kemarin.

Dia menilai pendidikan mengalami ketidaktepatan sasaran yang luar biasa. Gejala itu bisa dilihat dari kapabilitas lulusan yang tak sesuai dengan kualifikasi. Mereka tak memiliki kesiapan mental, baik dalam penalaran maupun kepemimpinan. Paradigma pendidikan dan kebudayaan tersebut berimbas ke ranah struktur dan politik.

”Selanjutnya berdampak pada ranah operasional dan finansial pendidikan yang secara berlarut menghasilkan karakter dan marwah bangsa yang rendah. Karena itu tak menanggapi problem kebangsaan ini secara emosional dan reaksioner,” tutur dia.
Harus Kapabel Karena itu beberapa langkah harus segera diambil. Misalnya, mengangkat menteri pendidikan yang kapabel dan memiliki ideologi pendidikan progresif. Jika bidang pendidikan merupakan agenda terpenting dengan anggaran terbesar, perlu tenaga pemikir.

”Lembaga kepresidenan dan wakil presiden harus menempatkan staf khusus bidang pendidikan. Bahkan jika perlu membentuk komisi atau Dewan Pendidikan Nasional,” kata dia.

Langkah selanjutnya adalah debirokratisasi, yakni melalui pembenahan sistem perekrutan kepala dinas dan kepala sekolah. Juga penataan ulang penjenjangan, penjaluran, dan jenis pendidikan yang menekankan pada pendidikan politeknik yang difasilitasi lapangan kerja.

”Reposisi saja lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dan sesuaikan dengan gagasan pendidikan profesi guru. Jika perlu hapus berbagai kebijakan kontroversial yang tak relevan dengan kebutuhan bangsa dan pendidikan, seperti UU tentang BHP dan ujian nasional,” tandas mantan Rektor IKIP PGRI Semarang itu.

Kurikulum dan mata pelajaran pun, kata dia, perlu dikurangi. Juga harus ada pembaruan orientasi dan metodologi pembelajan dengan mengacu ke Pasal 1 Ayat 1 UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi diri.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah menguji kelayakan buku serta prasarana dan sarana pendidikan. ”Mendesak pula mengaudit program dan pendanaan pendidikan melalui kerja sama dengan pakar dan lembaga independen yang kredibel,” ucap dia.


0 Responses to “Filosofi Pendidikan Dinilai Rancu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: